Pemberontakan PKI 1926 dan Tragedi Boven Digul

Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam adalah peristiwa saat PKI melancarkan pemberontakan bersenjata pada 12 November 1926 di Jawa dan 1 Januari 1927 di Sumatera Barat. Keduanya gagal. Akibatnya, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan 1.308 orang ke kamp Boven Digul di pedalaman Papua — 455 kilometer dari muara sungai, tanpa pengadilan yang adil, dikelilingi hutan rawa dan nyamuk malaria. Sebagian dari mereka kelak menjadi arsitek kemerdekaan Indonesia.


Bayangkan kamu dikirim ke hutan Papua, tanpa tahu kapan bisa pulang, bahkan tanpa vonis pengadilan yang jelas. Itulah yang dialami ribuan orang Indonesia setelah Pemberontakan PKI 1926. Ini bukan sekadar catatan sejarah komunisme. Ini adalah kisah manusia biasa yang berani menentang penjajahan, lalu membayarnya dengan harga yang sangat mahal.


Apa Itu Pemberontakan PKI 1926?

Pemberontakan PKI 1926 dan Tragedi Boven Digul

Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam bermula dari Kongres Prambanan pada Desember 1925. Kongres itu menghasilkan Putusan Prambanan — keputusan untuk melancarkan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda (Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud, 2023).

Menurut Ruth T. McVey dalam The Rise of Indonesian Communism — karya akademik paling otoritatif tentang PKI awal — keputusan ini dikritik keras oleh Tan Malaka. Ia menilai partai belum siap: disiplin lemah, serikat buruh kacau, dan pemberontakan butuh dukungan rakyat yang jauh lebih luas. Tan Malaka benar.

Pada malam 12–13 November 1926, pemberontakan meletus di berbagai daerah Jawa: Jakarta, Banten, Priangan, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Solo, hingga Kediri. Gelombang kedua menyusul di Sumatera Barat pada 1 Januari 1927, di Silungkang dan sekitarnya. Kedua pemberontakan itu gagal dalam hitungan hari.

Menurut berbagai sumber akademik yang dikutip Wikipedia Indonesia, akibat pemberontakan ini: sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dijebloskan ke penjara, 4 orang dihukum mati, dan 1.308 diasingkan ke Boven Digul.

Poin Penting:

  • Pemberontakan meletus 12 November 1926 di Jawa dan 1 Januari 1927 di Sumatera Barat, keduanya gagal dalam hitungan hari
  • PKI adalah partai komunis pertama di Asia yang melancarkan pemberontakan bersenjata melawan kekuatan kolonial
  • Akibatnya: 4.500 dipenjara, 4 dihukum mati, 1.308 diasingkan ke Boven Digul (Lembaran PKI 1961, dikutip dalam Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud)

Mengapa Boven Digul Dipilih sebagai Tempat Pengasingan?

Pemberontakan PKI 1926 dan Tragedi Boven Digul

Keputusan ini dibuat resmi dalam Pertemuan Luar Biasa Dewan Hindia Belanda pada 18 November 1926 — hanya enam hari setelah pemberontakan di Jawa — atas usul Gubernur Jenderal A.C.D. de Graaff (Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud, 2023).

Pilihan itu bukan kebetulan. Menurut Handoko (2016) dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha, jarak antara kamp dengan muara Sungai Digul adalah 455 kilometer — setara jarak Jakarta ke Semarang. Satu-satunya akses masuk: menyusuri Sungai Digul dengan kapal motor selama berhari-hari.

Selain isolasi geografis, hutan Papua dipenuhi nyamuk malaria. Pemerintah Belanda secara sadar memanfaatkan kondisi ini. Seperti dicatat Ensiklopedia Sejarah Indonesia, alasan dipilihnya wilayah Sungai Digul adalah kondisinya yang terisolasi, berada di tengah hutan dan rawa, dengan nyamuk malaria, buaya, dan ancaman alam lainnya.

Kamp ini dibangun oleh Kapten L. Th. Becking — orang yang sama yang sebelumnya memadamkan pemberontakan di Banten. Di dalamnya ada tiga zona: Tanah Merah (tahanan umum), Tanah Tinggi (yang dianggap paling berbahaya), dan Gudang Arang (Mirawati, 1990, dikutip Ensiklopedia Sejarah Indonesia).

Ini bukan penjara konvensional. Tidak ada sel, tidak ada hukuman fisik sistematis. Pemerintah kolonial hanya membiarkan para tahanan — dengan harapan malaria, isolasi, dan keputusasaan akan menghancurkan mereka secara perlahan.

Poin Penting:

  • Boven Digul dipilih secara resmi oleh Dewan Hindia Belanda pada 18 November 1926, enam hari setelah pemberontakan di Jawa
  • Jarak kamp dari muara sungai adalah 455 km — setara Jakarta ke Semarang (Handoko, 2016, Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 1 No. 2)
  • Ada tiga zona kamp: Tanah Merah, Tanah Tinggi, dan Gudang Arang

Siapa Saja Para Tahanan Boven Digul?

Pemberontakan PKI 1926 dan Tragedi Boven Digul

Para tahanan Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam bukan sekadar angka dalam arsip. Mereka adalah manusia nyata dengan nama, keluarga, dan mimpi.

Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Boven Digoel (2013), pada April 1930 penghuni kamp mencapai sekitar 2.000 orang — terdiri dari 1.308 interniran dan anggota keluarga mereka yang memilih ikut ke pengasingan.

Komposisi mereka beragam. Data tahun 1928 mencatat: 629 orang Jawa, 77 dari Sumatera, 33 dari Maluku. Dari segi profesi: 383 pegawai rendah, 79 petani, dan 361 guru, sopir, serta pekerja kecil. Ini bukan elite partai — ini rakyat biasa.

Tokoh-tokoh pergerakan yang pernah dibuang ke Boven Digul antara lain: Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, Chalid Salim, Lie Eng Hok, Muchtar Lutfi, dan Ilyas Ya’kub (Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, 2013).

Satu nama yang menonjol adalah Mas Marco Kartodikromo (1890–1932), wartawan dan novelis terkemuka era pergerakan nasional. Karyanya seperti Student Hidjo (1919) dianggap “bacaan liar” oleh Belanda. Setelah pemberontakan 1926, ia dibuang ke Boven Digul — dan meninggal di sana pada 18 Maret 1932 akibat malaria (Ensiklopedia Sastra Indonesia, Kemdikbud).

Dari dalam pengasingan, Marco masih menulis. Dalam Pergaulan Orang Buangan di Boven Digul, ia merefleksikan ironi nasibnya dengan pahit: berharap bisa menerapkan cita-cita di tanah pengasingan, tapi segera sadar harapan itu mustahil di bawah cengkeraman kolonial (Historia.id, 2017).

Poin Penting:

  • Dari 1.308 tahanan, mayoritas adalah rakyat biasa: pegawai rendah, petani, guru, pekerja kecil — bukan pemimpin partai
  • Komposisi etnis berdasarkan data 1928: orang Jawa (629), Sumatera (77), Maluku (33)
  • Mas Marco Kartodikromo, sastrawan pergerakan nasional, meninggal di Boven Digul pada 18 Maret 1932 akibat malaria

Bagaimana Kehidupan Sehari-hari di Boven Digul?

Kehidupan dalam Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam lebih kompleks dari yang dibayangkan — bukan neraka murni, tapi juga jauh dari manusiawi.

Para tahanan tidak dikurung dalam sel. Mereka “bebas” bergerak dalam batas wilayah kamp. Namun rimba Papua dan sungai berbahaya mengurung mereka lebih efektif dari tembok penjara mana pun.

Menurut penelitian Handoko (2016) yang dikutip Ensiklopedia Sejarah Indonesia, ada kategori sosial di antara para tahanan. Kelompok yang disebut De Werkwillinger bersedia bekerja sama dengan pemerintah kolonial — menjadi kepala kampung, juru tulis, perawat, atau pekerja dinas pengendalian malaria. Mereka digaji dan punya peluang lebih besar untuk dipulangkan lebih cepat.

Di tengah penderitaan, kehidupan komunal tetap berkembang. Para tahanan mendirikan komunitas berdasarkan asal etnis: Kampung Ujung Sumatera (Minangkabau), Aceh, Lampung, dan Kampung Jawa. Mereka bercocok tanam dan mendirikan kelompok kesenian — opera, musik, teater, ketoprak, wayang orang, dan keroncong — dalam wadah bernama Kunst en Sportvereeniging Digoel yang bertahan hingga kamp dibubarkan pada 1943 (Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud, 2023).

Sayuti Melik — yang kelak menjadi pengetik naskah Proklamasi — memanfaatkan masa pengasingannya di Boven Digul (1927–1933) untuk belajar bahasa Inggris dan Prancis (Historia.id, 2020). Waktu yang paling menyiksa diubahnya menjadi waktu untuk berkembang.

Malaria tetap menjadi ancaman terbesar. Hampir semua tahanan pernah terserang. Marco Kartodikromo adalah salah satu yang tidak berhasil bertahan. Namun yang paling menyiksa bukan penyakit fisik — melainkan ketidakpastian tanpa batas. Tidak ada vonis yang jelas. Tidak ada tanggal kepulangan yang pasti.

Poin Penting:

  • Para tahanan bebas bergerak dalam batas kamp, tapi hutan dan sungai Papua lebih efektif dari tembok penjara
  • Kehidupan komunal berkembang: ada kelompok kesenian aktif bernama Kunst en Sportvereeniging Digoel hingga 1943
  • Sayuti Melik memanfaatkan masa pengasingan 1927–1933 untuk belajar bahasa Inggris dan Prancis

Kisah Nyata: Dari Boven Digul ke Proklamasi Kemerdekaan

Inilah yang membuat Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam begitu mengejutkan: beberapa tahanannya kelak menjadi arsitek kemerdekaan Indonesia.

Sayuti Melik dibuang ke Boven Digul pada 1927, ketika usianya baru 18–19 tahun. Ia ditangkap pada 1926 karena dituduh terlibat pemberontakan PKI, dipenjara di Banyumas, lalu dibuang ke Digul (Historia.id, 2020). Ia baru keluar pada 1933 — enam tahun terbuang di ujung Papua. Namun pada 17 Agustus 1945, tangan yang sama mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir diasingkan ke Banda Neira, bukan Boven Digul. Namun nama keduanya tercatat dalam daftar tokoh pergerakan yang pernah dibuang oleh Belanda menurut Pemerintah Kabupaten Boven Digoel (2013) — menandakan betapa luas jaring yang ditebarkan kolonial terhadap semua suara perlawanan.

Boven Digul secara tidak sengaja menjadi tempat di mana para pejuang kemerdekaan dari berbagai latar belakang saling bertemu dan menguatkan satu sama lain. Pengasingan yang dirancang untuk menghancurkan perlawanan justru mempertemukan api-api kecil yang kelak membakar semangat kemerdekaan.

Poin Penting:

  • Sayuti Melik, pengetik naskah Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah mantan tahanan Boven Digul (1927–1933)
  • Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir diasingkan ke Banda Neira, namun juga masuk dalam radar pengawasan ketat Belanda
  • Boven Digul menjadi tempat perjumpaan para pejuang kemerdekaan dari berbagai latar belakang ideologi

Mengapa Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam Penting Diingat?

Ada tiga alasan kuat mengapa Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam layak mendapat tempat lebih besar dalam ingatan kolektif bangsa.

Pertama, ini adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan. Pemberontakan 1926 adalah salah satu perlawanan bersenjata pertama yang terorganisir melawan kolonialisme di Indonesia. Seperti dicatat Williams dalam Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten, kondisi hidup yang berat di bawah kolonial lebih menjadi faktor keterlibatan banyak orang — bukan semata kesamaan ideologi komunis.

Kedua, ini adalah pelajaran tentang kekuasaan tanpa batas. Pengasingan 1.308 orang ke Boven Digul dilakukan tanpa proses pengadilan yang adil. Setelah pemberontakan, Belanda mengeluarkan pasal-pasal karet agar mudah menjerat siapa pun yang dianggap mengancam — bukan hanya komunis, tapi semua yang dianggap berbahaya bagi rezim.

Ketiga, ada warisan manusia yang hidup. Kisah Sayuti Melik — dari penjara Digul ke mesin ketik Proklamasi — adalah kisah ketahanan manusia yang luar biasa. Marco Kartodikromo yang menulis hingga napas terakhir di tanah pengasingan adalah simbol bahwa pena tetap lebih kuat dari jeruji. Kisah-kisah ini milik semua rakyat Indonesia, bukan hanya milik satu ideologi.

Poin Penting:

  • Pemberontakan 1926 adalah salah satu perlawanan bersenjata pertama yang terorganisir terhadap kolonialisme di Indonesia
  • Pengasingan tanpa pengadilan yang adil adalah praktik kekuasaan kolonial yang harus menjadi pelajaran sejarah
  • Kisah para tahanan — dari Boven Digul hingga Proklamasi — adalah warisan ketahanan manusia yang universal

Baca Juga Cara Stalin Industrialisasi USSR 5 Tahun 1928

FAQ

Apa yang dimaksud dengan Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam?

Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam merujuk pada dua peristiwa yang saling terhubung: pemberontakan bersenjata PKI pada November 1926 di Jawa dan Januari 1927 di Sumatera Barat yang keduanya gagal; serta konsekuensinya berupa pengiriman 1.308 tahanan ke kamp pengasingan Boven Digul di pedalaman Papua tanpa pengadilan yang adil. Tragedi ini menjadi salah satu halaman paling kelam dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Berapa jumlah tahanan yang dikirim ke Boven Digul akibat Pemberontakan PKI 1926?

Menurut Lembaran PKI (1961) yang dikutip dalam Ensiklopedia Sejarah Indonesia Kemdikbud, tercatat 1.308 tahanan dari Jawa dan daerah lain diangkut ke Boven Digul. Pada April 1930, penghuni kamp mencapai sekitar 2.000 orang jika termasuk anggota keluarga yang ikut (data W.P. Hillen, dikutip Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud, 2023).

Siapa tokoh terkenal yang pernah diasingkan ke Boven Digul?

Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Boven Digoel (2013), tokoh-tokoh yang pernah diasingkan antara lain Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, Chalid Salim, Lie Eng Hok, Muchtar Lutfi, dan Ilyas Ya’kub. Yang paling mengejutkan: Sayuti Melik, mantan tahanan Boven Digul (1927–1933), kelak menjadi pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Apakah Boven Digul masih ada hingga sekarang?

Ya. Wilayah Boven Digul kini menjadi Kabupaten Boven Digoel, bagian dari Provinsi Papua Selatan, Indonesia. Kamp pengasingan bersejarah itu sudah tidak beroperasi. Untuk mencapainya, bisa menggunakan penerbangan Twin Otter sekitar 90 menit dari Bandara Moppa, Merauke, atau jalan darat sekitar 500 kilometer dari Merauke saat musim kemarau (Wikipedia Indonesia, 2024).

Mengapa Pemberontakan PKI 1926 dianggap gagal?

Pemberontakan ini gagal karena persiapan yang tidak matang, koordinasi yang buruk antar daerah, kekuatan militer Belanda yang jauh lebih unggul, dan absennya dukungan rakyat luas. Tan Malaka sudah memperingatkan hal ini sebelum pemberontakan terjadi — ia menilai PKI belum siap secara organisasi dan dukungan massa (McVey, The Rise of Indonesian Communism, dikutip berbagai sumber akademik).

Apakah semua tahanan Boven Digul adalah anggota PKI?

Tidak. Meskipun mayoritas ditangkap terkait Pemberontakan PKI 1926, tidak semua tahanan adalah anggota aktif PKI. Banyak yang hanya dianggap bersimpati pada gerakan tersebut. Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan pasal-pasal karet sehingga siapa pun yang dianggap mengancam rezim bisa diasingkan tanpa proses hukum yang adil.

Apa yang terjadi pada kamp Boven Digul setelah Jepang datang?

Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, kamp Boven Digul mulai dibubarkan. Sebagian tahanan dibawa oleh Belanda ke Australia. Para tahanan di Australia kemudian mempengaruhi serikat buruh setempat untuk memboikot kapal-kapal Belanda. Setelah Sekutu menang, mereka dikembalikan ke Indonesia. Kamp Boven Digul secara resmi dibubarkan pada 1943 (Wikipedia Indonesia, 2024).


Kesimpulan

Pemberontakan PKI 1926 Boven Digul Tragedi Kelam adalah lembaran sejarah yang terlalu penting untuk dilupakan. Di balik angka 1.308 tahanan, ada ribuan kisah manusia — tentang keberanian yang berujung derita, keluarga yang terpisah ribuan kilometer, dan semangat yang tidak padam meski dikurung di ujung dunia. Yang paling mengejutkan: beberapa dari mereka yang bertahan justru kelak menjadi arsitek kemerdekaan Indonesia. Memahami tragedi ini bukan soal membela satu ideologi — ini soal menghormati semua yang pernah berjuang agar generasi kita bisa merdeka.


Referensi

  1. Ensiklopedia Sejarah Indonesia – Kemdikbud. (2023). Penjara Boven Digul.
  2. Ensiklopedia Sejarah Indonesia – Kemdikbud. (2023). Prambanan (Putusan Prambanan).
  3. Ensiklopedia Sastra Indonesia – Kemdikbud. (t.t.). Mas Marco Kartodikromo
  4. Pemerintah Kabupaten Boven Digoel. (2013). Sejarah Boven Digoel pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda.
  5. Handoko, Susanto T. (2016). Boven Digoel dalam Panggung Sejarah Indonesia: Dari Pergerakan Nasional Hingga Otonomi Khusus Papua. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 1(2): 81-92.
  6. Historia.id. (2020). Sayuti Melik Merasa Bebas di Dalam Penjara.
  7. Historia.id. (2017). Pogau dan Mas Marco Kartodikromo.
  8. Wikipedia Indonesia. (2024). Tempat Pengasingan Boven Digoel.
  9. McVey, Ruth T. (2010). The Rise of Indonesian Communism. Dikutip dalam Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud.
  10. Williams, Michael C. Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten.
  11. Shiraishi, Takashi. (2021). The Phantom World of Digul: Policing as Politics in Colonial Indonesia, 1926-1941. Dikutip dalam Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud.