Pemberontakan PKI 1926: 1308 Kader Diasingkan

Pemberontakan PKI 1926 1308 Kader Boven Digul menjadi salah satu babak kelam dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Pada November 1926, ribuan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda di Jawa dan Sumatera. Hasilnya tragis: 20 ribu orang ditahan dan dari jumlah itu 1308 orang diasingkan ke kamp Boven Digoel, Papua.

Yang membuat peristiwa ini begitu mencengangkan adalah nasib para pengasingan. Mereka tidak melalui proses pengadilan—hanya diputuskan secara administratif oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan dibuang ke hutan belantara Papua. Boven Digul menjadi “penjara alam” yang mengisolasi para pejuang kemerdekaan dari peradaban, dikelilingi hutan lebat, rawa-rawa, dan ancaman buaya di Sungai Digul sepanjang 525 kilometer.

Latar Belakang Pemberontakan PKI 1926: Ketika Rakyat Tertindas Melawan Kolonial

Pemberontakan PKI 1926: 1308 Kader Diasingkan

Di akhir tahun 1926, tanpa koordinasi ataupun mediasi dengan pimpinan yang sedang berada di pengasingan, PKI melancarkan pemberontakan yang berlangsung selama bulan November-Desember, dengan pelaksanaannya di berbagai kota penting di Jawa, seperti Batavia (Jakarta), Meester Cornelis (Jatinegara), Tangerang, Karesidenan Banten, Priangan, Solo, dan Kediri.

Pemberontakan ini bukan muncul tiba-tiba. Pada 1924, pemerintah kolonial Belanda melarang PKI karena dianggap mengancam stabilitas politik. Pelarangan ini memicu kemarahan di kalangan aktivis dan buruh yang merasa tertindas. Partai yang sebelumnya aktif dalam serikat buruh dan gerakan sosial terpaksa bergerak di bawah tanah.

Yang tragis adalah koordinasi pemberontakan sangat lemah. Para pemimpin PKI seperti Semaun dan Darsono sudah dalam pengasingan di luar negeri sejak 1923 setelah memimpin pemogokan umum buruh. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menanggapi hal tersebut dengan tegas, pada bulan Desember 1926 sebanyak 100 lebih “kaum merah” dari Tanah Abang dan Karet ditangkap lalu digiring ke kantor Kabupaten Molenvliet daerah Gambir.

Faktor lain yang membuat pemberontakan gagal adalah taktik PKI yang terbilang monoton. Taktik PKI juga terbilang monoton, hanya berputar di bidang mogok, rapat, rapat anggota, dan surat kabar, yang tentu semakin lama akan semakin usang. Tanpa strategi yang matang dan dukungan persenjataan yang memadai, pemberontakan mudah dipatahkan oleh pasukan kolonial.

Kronologi Peristiwa November 1926-Januari 1927: Aksi yang Berakhir Tragis

Pemberontakan PKI 1926: 1308 Kader Diasingkan

Perlawanan rakyat tersebut terjadi secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka seperti serangan bersenjata. Pemberontakan di Jakarta (yang dulu bernama Batavia) mengakibatkan melukai serdadu-serdadu Belanda. Banyak juga terjadi penggropyokan di rumah asisten residen Belanda, diserbu dan dibakar.

Di wilayah Solo-Yogyakarta, para pemberontak memutus hubungan telepon dan membakar gedung tembakau. Namun, rencana untuk membongkar rel kereta dan menyerbu pos polisi gagal karena rencananya bocor kepada pihak kolonial.

Di Sumatra Barat, 1 Januari 1927 Pemberontakan terjadi di Sawahlunto dan diikuti di Silukang. Massa bergerak menangkapi alat-alat pemerintah kolonial, memutus jalan-jalan, merebut kantor telepon, menduduki stasiun kereta api. Namun seperti di Jawa, pemberontakan di Sumatera juga dengan cepat ditumpas oleh pasukan kolonial yang lebih terlatih dan bersenjata lengkap.

Korban dari pemberontakan ini tidak sedikit, terutama dari pihak massa rakyat yang sebagian besar adalah petani dan buruh biasa. Perburuan besar-besaran terhadap orang-orang “merah” mulai digencarkan oleh Pemerintah Kolonial, mereka yang beruntung memutuskan untuk melarikan diri, mereka yang tidak harus mendekam di penjara kolonial selama bertahun-tahun, atau yang lebih parah diasingkan ke tempat-tempat terpencil seperti Boven Digoel di Papua.

Siapa Saja 1308 Orang yang Diasingkan ke Boven Digul?

Pemberontakan PKI 1926: 1308 Kader Diasingkan

Boven Digoel kemudian digunakan sebagai lokasi pembuangan pemimpin-pemimpin nasional yang jumlahnya hingga sekitar 1.308 orang. Tetapi siapa saja mereka?

Menurut data historis, Sewaktu rombongan pertama datang, Digoel sama sekali belum merupakan daerah permukiman. Rombongan pertama sebanyak 1.300 orang yang sebagian besar dari Banten, diberangkatkan pada Januari 1927. Kemudian pada akhir Maret 1927, menyusul ratusan orang lain dari Sumatera Barat.

Yang mengejutkan, tidak semua yang diasingkan adalah anggota PKI. Selain itu, sejumlah aktivis dari organisasi politik lainnya juga turut diasingkan ke kamp ini, seperti tokoh Partai Republik Indonesia (PARI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (PARTINDO), Perhimpunan Muslim Indonesia (PERMI), Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).

Tokoh-tokoh pergerakan yang pernah dibuang di Boven Digoel ini antara lain adalah : Sayuti Melik (1927-1938), Hatta (1935-1936), Sutan Sjahrir dan Muchtar Lutfi. Tokoh lainnya termasuk Marco Kartodikromo (wartawan yang meninggal karena TBC di kamp), Ilyas Yacub, dan Thomas Nayoan dari Minahasa yang berusaha melarikan diri hingga ke Australia namun ditangkap kembali.

Yang paling tragis, pada tahun 1930, kamp ini menampung sekitar 1.300 tawanan dan 700 anggota keluarga. Artinya, keluarga para tahanan—istri dan anak-anak—juga ikut diasingkan, meskipun mereka tidak terlibat dalam pemberontakan.

Kondisi Mengerikan di Boven Digul: “Jungle Sanatorium” yang Menakutkan

Pemberontakan PKI 1926: 1308 Kader Diasingkan

Boven Digul merupakan tempat terpencil, terletak di tengah hutan belantara dekat hulu sungai Digul, di selatan Papua. Di sebelah utara, timur, dan selatan, tempat ini dikelilingi hutan lebat yang sangat sulit ditembus dan tempatnya sangat jauh terisolasi, sehingga para tawanan akan kesulitan untuk melarikan diri dari penjara alam ini.

Di wilayah ini, dibangun sebuah kamp seluas 10.000 hektare dengan tujuan khusus, yaitu untuk mendisiplinkan pegawai sipil Belanda yang melanggar aturan, serta untuk mengasingkan para pejuang kemerdekaan dan tahanan politik.

Penjara Boven Digoel terdiri dari dua kamp, yakni Tanah Merah dan Tanah Tinggi. Kamp Tanah Merah merupakan penjara utama, jaraknya sekitar 455 km dari hulu Sungai Digoel, yang merupakan jalan utama menuju kamp pengasingan. Sedangkan kamp Tanah Tinggi berjarak 55 km dari Tanah Merah.

Kondisi di kamp sangat mengerikan. Sebagai tempat pengasingan, Boven Digoel dikenal akan keganasannya. Bahkan tidak sedikit para kaum Digulis (tokoh pergerakan yang menjadi penghuni kamp Boven Digoel) meregang nyawa selama masa pengasingan tersebut, ada yang meninggal karena tidak sanggup menderita penyakit TBC dan Malaria.

Tercatat dalam sejarah, seseorang Digulis bernama Mangoenatmodjo meregang nyawa akibat terkaman buaya saat beraktivitas di Sungai Digoel. Ancaman lain datang dari nyamuk malaria yang ganas, kondisi sanitasi buruk, dan isolasi yang membuat banyak tahanan mengalami gangguan mental.

Digul dibangun oleh Gubernur Jenderal De Graeff pada 1927 sebagai lokasi pengasingan tahanan politik. Di sekeliling Digul terdapat hutan rimba dengan pohon yang menjulang tinggi. Tidak ada fasilitas medis yang memadai, dan bantuan dari luar sangat terbatas.

Beberapa tokoh seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir juga merasakan kerasnya kehidupan di Boven Digul. Kedua toko pergerakan nasional itu dibuang di lokasi itu pada 28 Januari 1935 silam. Hatta menghabiskan waktu dengan membaca buku dan mengajar ekonomi kepada sesama tahanan, sementara Setelah 10 bulan di Boven Digoel, Sjahrir terkena penyakit Malaria dan merasakan penderitaan yang hebat.

Jejak Sejarah Boven Digul Hari Ini: Dari Kamp Pengasingan Menjadi Kabupaten

Pemberontakan PKI 1926: 1308 Kader Diasingkan

Boven Digul kini telah berubah total. Kabupaten Boven Digoel adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Tanah Merah, dengan jumlah penduduk 65.310 jiwa pada 2022, dan sebanyak 70.400 jiwa pada pertengahan 2024.

Kabupaten Boven Digoel merupakan kabupaten yang dibentuk dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2002, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Merauke. Wilayah yang dulunya menjadi neraka bagi para pejuang kemerdekaan, kini menjadi daerah otonom dengan pemerintahan sendiri.

Tanah Merah resmi menjadi ibukota Kabupaten Boven Digoel pada tanggal 11 Desember tahun 2023 berdasarkan Undang-undang No.26 Tahun 2022. Dan hingga kini Kabupaten Boven Digoel memiliki 20 Distrik dan 112 Kampung.

Untuk mengakses Boven Digul saat ini, Perjalanan panjang melalui jalur udara. Dari Jakarta-Jayapura. Serta Jayapura-Tanah Merah. Selain jalur udara, bisa melalui jalur darat dari Merauke. Membutuhkan waktu sekitar 6 jam dengan berkendara menggunakan roda empat.

Yang mengharukan, Tak jauh dari Bandara Tanah Merah, terdapat satu patung besar Bung Hatta. Tepatnya berada di hadapan Bandara yang digunakan untuk pendaratan pesawat perintis. Ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat menghargai sejarah perjuangan para tokoh bangsa yang pernah diasingkan di wilayah mereka.

Status warisan sejarah Boven Digul juga telah diakui. Saat ini, penjara Boven Digoel telah ditetapkan menjadi cagar budaya nasional sejak 26 Maret 2007. Namun, upaya pelestarian dan edukasi tentang situs bersejarah ini masih perlu ditingkatkan.

Taman Makam Pahlawan ini berada di Distrik Mandobo. Kawasannya berada di tengah-tengah lebatnya hutan Papua. Sesuai namanya, kawasan ini merupakan tempat pemakaman para pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia. Di sebelah kompleks pemakaman, dibangun monumen perjuangan untuk memeringati semangat para pejuang.

Baca Juga Leon Trotsky vs Stalin 2025

Pelajaran dari Sejarah yang Terlupakan: Mengapa Kita Harus Mengingat?

Peristiwa Pemberontakan PKI 1926 1308 Kader Boven Digul memberikan pelajaran penting tentang hak asasi manusia dan supremasi hukum. Pembuangan para tokoh politik ke Boven Digul tidak berupa sanksi yang diberikan setelah melewati proses hukum (penal sanction), tetapi tindakan administratif yang ditetapkan oleh gubernur jenderal (exorbitant rechten).

Ini berarti ribuan orang—termasuk keluarga mereka—diasingkan tanpa pengadilan, tanpa hak pembelaan, hanya berdasarkan keputusan sepihak penguasa kolonial. Dalam konteks modern, tindakan seperti ini jelas merupakan pelanggaran HAM berat.

Sejarah Boven Digul juga mengajarkan tentang konsekuensi dari pemberontakan yang tidak terkoordinasi. Suatu gerakan akan berhasil apabila memiliki taktik yang cerdik nan cerdas di dalamnya. Strategi yang dipilih harus bisa meraih opini publik dan digunakan secara efektif untuk mencapai tujuan dari gerakan tersebut.

Kegagalan PKI 1926 mengubah strategi pergerakan nasional Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir belajar dari kesalahan ini dan memilih jalur diplomasi, pendidikan massa, dan persatuan lintas golongan—strategi yang terbukti lebih efektif dalam meraih kemerdekaan.

Yang paling penting, sejarah ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap angka statistik—1.308 orang, 700 keluarga, ratusan yang meninggal—ada manusia dengan nama, mimpi, dan perjuangan. Mereka bukan sekadar “komunis” atau “pemberontak”, tetapi juga petani, buruh, guru, dan wartawan yang percaya pada cita-cita kemerdekaan.

Mengingat Boven Digul bukan tentang memuji atau mengutuk PKI. Ini tentang memahami bagaimana kekuasaan kolonial menggunakan kekerasan sistematis untuk membungkam suara rakyat—dan memastikan sejarah kelam seperti ini tidak terulang dalam bentuk apapun di Indonesia modern.

Bagaimana pendapatmu tentang sejarah Pemberontakan PKI 1926 ini? Apakah peristiwa seperti Boven Digul perlu diajarkan lebih detail di sekolah? Mari kita diskusikan di kolom komentar!


Referensi:

  • Southeast Asian Anarchist Library – Hantu Bakunin dan Pemberontakan PKI 1926
  • Wikipedia Indonesia – Tempat Pengasingan Boven Digoel (diakses November 2025)
  • Indonesia.go.id – Menguak Boven Digoel Tempat Bung Hatta Diisolasi
  • Pemerintah Kabupaten Boven Digoel – Sejarah Resmi
  • Ensiklopedia Sejarah Indonesia – Penjara Boven Digul
  • MARINews Mahkamah Agung – Menelusuri Sejarah Penjara Boven Digoel